Ketika Tanah Menjadi Doa, dan Petani Menjadi Penjaga Kehidupan
Oleh : Muh. Arsalin Aras
Pendahuluan
Ada manusia yang bekerja ketika sebagian besar dari kita masih memeluk mimpi.
Ketika langit masih menyimpan gelap, ketika embun belum sepenuhnya jatuh dari daun, dan ketika suara azan subuh baru saja mengajak manusia mengingat Tuhannya, di sanalah sebagian petani telah lebih dahulu menapakkan kaki di tanah.
Mereka berjalan menuju sawah, kebun dan ladang.
Kaki mereka mungkin berlumpur. Tangan mereka mungkin kasar.
Wajah mereka mungkin terbakar matahari, tetapi dari tangan yang sederhana itulah kehidupan kita tumbuh.
Petani tidak sekadar menanam padi. Mereka menanam kehidupan.
Petani Penjaga Pangan Nasional
24 September 2026, kita kembali memperingati Hari Tani Nasional, sebuah momentum untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pembangunan dan bertanya kepada diri sendiri : sudahkah kita benar-benar menghargai tangan yang memberi kita makan ?.
Sebab ada ironi yang sering luput dari perhatian.
Kita berbicara tentang ketahanan pangan, tetapi masih ada petani yang cemas ketika musim tanam tiba. Kita berbicara tentang kesejahteraan, tetapi sebagian petani masih harus berhadapan dengan mahalnya biaya produksi dan ketidakpastian harga. Kita berbicara tentang modernisasi pertanian, tetapi sebagian anak muda justru memandang profesi petani sebagai pekerjaan yang harus ditinggalkan.
Di sinilah Hari Tani seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni.
Ia harus menjadi cermin kebijakan.
Tanah Bukan Sekadar Hamparan
Tanah bagi petani bukan sekadar benda yang memiliki nilai ekonomi.
Tanah adalah ruang kehidupan.
Di atas tanah, benih diletakkan. Dari benih tumbuh harapan. Dari harapan lahir panen. Dari panen, dapur-dapur keluarga mengepul. Dari dapur yang mengepul, anak-anak tumbuh dan sekolah. Dan dari generasi yang tumbuh itulah masa depan bangsa dibangun.
Karena itu, ketika kita kehilangan tanah pertanian, sesungguhnya kita tidak hanya kehilangan lahan.
Kita sedang kehilangan sebagian dari rantai kehidupan.
Petani memahami filosofi itu, mereka tahu bahwa benih tidak tumbuh karena dipaksa.
Ia tumbuh karena dirawat, ia membutuhkan waktu, ia membutuhkan air.
Ia membutuhkan kesabaran.
Dan pada akhirnya, ia menyerahkan hasilnya kepada kehendak Allah SWT.
Petani Mengajarkan Arti Kesabaran
Mungkin kita hidup dalam zaman yang ingin semuanya serba cepat.
Tetapi petani mengajarkan sesuatu yang berbeda, tidak semua yang berharga bisa diperoleh dengan tergesa-gesa.
Petani menanam hari ini untuk dipanen beberapa bulan kemudian.
Ia memasukkan benih ke dalam tanah tanpa mengetahui secara pasti seperti apa hasil akhirnya.
Di situlah sesungguhnya terdapat filsafat kehidupan.
Menanam adalah bentuk keberanian untuk berharap.
Merawat adalah bentuk kesetiaan.
Menunggu adalah bentuk kesabaran.
Dan panen adalah bentuk syukur.
Karena itu, petani bukan hanya mengajarkan kita bagaimana menghasilkan pangan.
Mereka mengajarkan kita bagaimana menjalani kehidupan.
Jangan Romantisasi Kemiskinan Petani
Kita boleh mengagungkan petani sebagai pahlawan pangan, tetapi jangan sampai pujian menjadi pengganti kesejahteraan.
Jangan sampai kita mengatakan petani adalah pahlawan, sementara anak-anak mereka masih kesulitan memperoleh pendidikan.
Jangan sampai kita mengatakan petani adalah tulang punggung ketahanan pangan, tetapi ketika panen tiba mereka justru berhadapan dengan harga yang membuat mereka kembali menghitung utang.
Jangan pula kita meminta petani terus menjaga sawah, sementara lahan pertanian terus terdesak oleh berbagai kepentingan pembangunan.
Petani tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan ekosistem yang adil, mereka membutuhkan akses terhadap pupuk dan benih yang terjangkau.
Mereka membutuhkan teknologi, mereka membutuhkan irigasi yang baik, mereka membutuhkan akses pembiayaan, mereka membutuhkan pasar.
Dan yang tidak kalah penting, mereka membutuhkan kepastian bahwa hasil kerja kerasnya memiliki nilai yang layak.
Sebab kesejahteraan petani bukan hadiah.
Ia adalah keadilan atas kerja.
Mandar dan Tanah yang Tak Pernah Berhenti Memberi
Di tanah Mandar, kita mengenal masyarakat yang sejak dahulu hidup dekat dengan alam.
Laut memberi kehidupan kepada nelayan.
Tanah memberi kehidupan kepada petani.
Keduanya memiliki satu kesamaan, sama-sama menggantungkan hidup kepada kemurahan alam, tetapi sekaligus harus berhadapan dengan ketidakpastian.
Di Majene dan Sulawesi Barat, tanah bukan hanya tempat berpijak.
Ia adalah bagian dari identitas.
Di sana ada sawah, kebun, kakao, hortikultura dan berbagai hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Karena itu, membangun pertanian tidak semestinya hanya dipahami sebagai meningkatkan produksi.
Lebih jauh dari itu, pembangunan pertanian adalah membangun martabat manusia.
Petani Mandar harus mampu berdiri sebagai pelaku ekonomi, bukan sekadar penerima bantuan.
Mereka harus didorong untuk menguasai teknologi, memahami pasar, membangun kelembagaan, memperkuat koperasi dan kelompok tani, serta mampu mengolah hasil pertanian agar nilai tambah tidak seluruhnya berhenti di luar daerah.
Sebab yang kita cita-citakan bukan sekadar petani yang mampu bertahan hidup.
Kita ingin melahirkan petani yang hidup layak, mandiri, bermartabat dan sejahtera.
Itulah semangat Malaqbiq dalam kehidupan petani kita bekerja dengan kejujuran, menjaga alam dengan amanah, dan menikmati hasil dengan kemuliaan.
Jangan Biarkan Generasi Muda Meninggalkan Sawah
Ada satu pertanyaan besar yang perlu kita renungkan.
Siapa yang akan menanam pangan Indonesia dua puluh atau tiga puluh tahun yang akan datang ?.
Jika anak-anak muda kita terus melihat pertanian sebagai profesi yang tidak menjanjikan, maka suatu hari kita mungkin memiliki teknologi yang semakin canggih, tetapi kehilangan manusia yang bersedia mengolah tanah.
Karena itu, pertanian harus dibuat menarik bagi generasi muda.
Bukan dengan sekadar meminta mereka kembali ke desa.
Tetapi dengan menciptakan alasan mengapa mereka ingin tinggal dan membangun desa.
Pertanian harus masuk ke ruang digital.
Petani harus mengenal data, teknologi, mekanisasi, pemasaran digital dan pengolahan pascapanen.
Anak muda tidak harus memilih antara teknologi dan pertanian.
Teknologi justru harus membawa pertanian ke masa depan.
Bayangkan jika sawah tidak lagi hanya menjadi tempat mencangkul, tetapi menjadi ruang inovasi.
Kebun bukan hanya tempat memetik hasil, tetapi menjadi pusat agrowisata.
Hasil bumi tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tinggi.
Di situlah pertanian berubah dari sekadar pekerjaan menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.
Negeri yang Kuat Dimulai dari Meja Makan
Ketahanan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa kuat persenjataannya.
Ia juga diukur dari apakah rakyatnya dapat makan dengan layak.
Sebab bangsa yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya akan selalu memiliki kerentanan.
Maka ketika seorang petani menanam padi, sesungguhnya ia sedang ikut menjaga kedaulatan bangsa.
Ketika seorang petani menanam sayur, ia sedang ikut menjaga kesehatan keluarga-keluarga Indonesia.
Ketika seorang petani merawat kebun, ia sedang ikut menjaga ekonomi desa.
Dan ketika kita membeli hasil pertanian lokal dengan harga yang wajar, sesungguhnya kita sedang ikut menjaga kehidupan seorang petani.
Ketahanan pangan bukan hanya urusan pemerintah. Ia adalah tanggung jawab bersama.
Menanam Harapan di Tanah Sendiri
Hari Tani Nasional hendaknya menjadi momentum untuk mengembalikan pandangan kita kepada tanah.
Sebab mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung pertumbuhan ekonomi, tetapi lupa menghitung berapa banyak tangan petani yang ikut menopangnya.
Kita terlalu sering berbicara tentang angka produksi, tetapi lupa bertanya:
Apakah petani yang menghasilkan produksi itu juga menikmati kesejahteraan ?.
Pertanyaan itulah yang semestinya terus hidup dalam setiap kebijakan pertanian.
Sebab pembangunan yang baik bukan hanya tentang berapa banyak yang dihasilkan.
Tetapi juga tentang siapa yang memperoleh manfaat dari hasil tersebut.
Dan di sanalah keadilan menemukan maknanya.
Penutup
Untuk petani yang berangkat sebelum matahari terbit.
Untuk ibu dan bapak yang menanam sambil menyimpan harapan bagi pendidikan anak-anaknya.
Untuk mereka yang tetap mencintai tanah meski harga panen kadang tidak sebanding dengan keringat.
Untuk mereka yang tangannya kasar, tetapi telah membuat meja makan kita penuh.
Wahai petani Indonesia,
barangkali namamu tidak selalu tertulis di halaman depan sejarah.
Tetapi setiap butir nasi yang kita makan membawa jejak keringatmu.
Setiap dapur yang mengepul menyimpan jasamu.
Maka muliakanlah petani.
Rawatlah tanah.
Jaga air.
Lindungi lahan pangan.
Bangun teknologi pertanian.
Perkuat pasar dan kelembagaan petani.
Sebab pada akhirnya,
tanah yang subur adalah anugerah,
petani adalah amanah,
pangan adalah kehidupan,
dan kesejahteraan petani adalah bagian dari keadilan sosial.
Dari tanah yang sederhana, tumbuh kehidupan.
Dari tangan yang kasar, lahir kemakmuran.
Dan dari petani yang sejahtera,
kita menanam masa depan Indonesia.
Selamat Hari Tani Nasional, 24 September 2026.
Petani Sejahtera, Indonesia Kuat.
Tanah Dijaga, Pangan Berdaulat.
Mandar Malaqbiq, Petani Dimuliakan.
Wassalam
