Merawat Persatuan, Menjaga Majene, Menjemput Masa Depan.
Oleh : Muh. Arsalin Aras
Pendahuluan
Sumpah yang Tak Pernah Usai oleh Zaman
Ada peristiwa yang telah berlalu puluhan tahun, tetapi maknanya tidak pernah selesai dibicarakan oleh zaman. Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, adalah salah satunya. Ia bukan sekadar catatan sejarah tentang ikrar anak-anak muda, melainkan sebuah kesadaran bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk berpisah, dan keberagaman tidak semestinya menjadi penghalang untuk melangkah bersama.
Para pemuda kala itu mungkin tidak mewariskan gedung-gedung megah atau kekayaan materi kepada generasi sesudahnya. Namun, mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga: kesadaran tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.
Cermin untuk Kita Hari Ini, 98 Tahun Kemudian
Kini, 98 tahun setelah ikrar itu diucapkan, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah kita masih mengingat Sumpah Pemuda, tetapi sejauh mana kita telah menghidupkan semangatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Majene Adalah Rumah Bersama
Bagi kita di Kabupaten Majene, pertanyaan itu terasa dekat. Di tanah yang menyimpan sejarah, adat, kearifan lokal, dan semangat _Assamalewuang_, persatuan bukanlah sesuatu yang asing. Ia tumbuh dalam kebiasaan saling menghormati, dalam tutur kata yang menjaga martabat sesama, serta dalam kesediaan untuk duduk bersama meskipun tidak selalu memiliki pandangan yang sama.
Sebab, Majene bukan hanya wilayah administratif yang terbentang dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya. Majene adalah rumah bersama. Di dalamnya ada harapan para petani, perjuangan nelayan, kerja keras pedagang, pengabdian aparatur, kreativitas generasi muda, doa para orang tua, dan cita-cita anak-anak yang kelak akan menentukan arah perjalanan daerah ini.
Persatuan Bukan Berarti Selalu Sepakat
Rumah bersama seperti ini tidak akan menjadi kuat apabila penghuninya terus-menerus mempertajam perbedaan. Sebaliknya, ia akan tumbuh kokoh apabila setiap orang memahami bahwa menjaga Majene bukan semata-mata tugas pemerintah, bukan pula tanggung jawab segelintir kelompok, melainkan amanah bersama seluruh masyarakatnya.
Persatuan tidak berarti kita harus selalu sepakat, tetapi kita harus tetap saling menghormati ketika berbeda pendapat.
Kita boleh berbeda pilihan, berbeda pendapat, bahkan berbeda cara memandang persoalan. Akan tetapi, jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan rasa persaudaraan.
Keamanan dan Ketertiban Dimulai dari Hal Sederhana
Dalam kehidupan bermasyarakat, persatuan juga harus menjelma menjadi keamanan dan ketertiban. Lingkungan yang aman bukan hanya hasil dari kehadiran aparat, melainkan buah dari kesadaran warga untuk menjaga perilaku, menghindari tindakan yang memicu pertikaian, menghormati hak orang lain, serta menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.
Keamanan tidak selalu dimulai dari pos penjagaan atau seragam petugas. Kadang-kadang, ia bermula dari sebuah ucapan yang tidak menyakiti, kabar yang tidak disebarkan sebelum diperiksa kebenarannya, dan kesediaan untuk meredakan pertengkaran sebelum berubah menjadi permusuhan.
Wajah Majene Ditentukan oleh Kebersihan Lingkungannya
Dan ketika berbicara tentang Majene, ada satu hal sederhana yang semestinya tidak luput dari perhatian kita: kebersihan.
Padahal, wajah sebuah daerah tidak hanya tercermin dari bangunan yang berdiri megah atau jalan yang terbentang panjang. Wajah daerah juga tampak dari halaman rumah yang terawat, pasar yang bersih, pantai yang tidak dipenuhi sampah, saluran drainase yang terpelihara, serta kebiasaan warganya menjaga lingkungan tanpa harus menunggu teguran.
Majene yang bersih bukan hanya pekerjaan pemerintah, melainkan cerminan budaya masyarakatnya.
Masyarakat dan Pemerintah : Dua Dayung dalam Satu Perahu
Di sinilah hubungan antara masyarakat dan pemerintah daerah menemukan maknanya. Pemerintah memiliki kewajiban merencanakan pembangunan, mengelola anggaran, menyediakan pelayanan, dan memastikan kebijakan berpihak pada kepentingan rakyat. Sementara itu, masyarakat memiliki peran untuk berpartisipasi, memberikan masukan yang membangun, menjaga hasil pembangunan, serta mengawasi jalannya pemerintahan secara bertanggung jawab.
Mendukung pembangunan bukan berarti meniadakan kritik. Sebaliknya, kritik yang disampaikan secara santun dan berdasarkan fakta dapat menjadi bagian dari dukungan terhadap pemerintahan yang lebih baik.
Pembangunan Harus Terasa oleh Rakyatnya
Sebab, pembangunan sejatinya bukan perlombaan untuk memperbanyak angka, proyek, atau bangunan. Pembangunan adalah ikhtiar untuk memperbaiki kehidupan manusia. Ia baru menemukan maknanya ketika jalan yang dibangun memudahkan aktivitas warga, pelayanan yang dibenahi meringankan urusan masyarakat, kesempatan ekonomi semakin terbuka, pendidikan semakin berkualitas, dan keluarga-keluarga dapat menjalani kehidupan yang lebih layak.
Majene yang maju harus membuat rakyatnya merasakan kemajuan. Majene yang mandiri harus semakin kuat mengelola potensi dan kemampuan daerahnya. Majene yang berbudaya harus tetap menjaga nilai luhur di tengah perubahan zaman.
Perubahan Besar Selalu Berawal dari Hal Kecil
Kita tidak harus menunggu seluruh persoalan selesai untuk mulai berbuat. Seorang pemuda dapat memulai dari lingkungannya. Seorang pedagang dapat menjaga kebersihan tempat usahanya. Seorang nelayan dapat ikut menjaga pesisir. Seorang aparatur dapat melayani dengan jujur dan sungguh-sungguh.
Barangkali tindakan-tindakan itu terlihat kecil. Namun, bukankah sungai yang besar bermula dari aliran-aliran kecil?
Penutup
Dari Tanah Assamalewuang untuk Masa Depan.
Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026 ini, marilah kita kembali merawat persaudaraan di antara sesama warga Majene. Kita jaga keamanan dan ketertiban, kita rawat kebersihan lingkungan, kita hormati perbedaan, dan kita bangun kerja sama yang sehat antara masyarakat dan pemerintah daerah.
Kepada generasi muda Majene, masa depan tidak hanya menunggu untuk diwarisi, tetapi juga menuntut untuk diperjuangkan.
Mari kita jadikan persatuan sebagai kekuatan, kebersamaan sebagai jalan, kebudayaan sebagai jati diri, dan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026
Majene adalah rumah kita bersama. Menjaganya adalah tanggung jawab kita semua.
Wassalam
Majene, 28 Oktober 2026.
