DARI 30 SEPTEMBER KE 1 OKTOBER

Ketika Sejarah Mengajarkan Kita : Persatuan Lebih Mahal daripada Perbedaan

Oleh : Muh. Arsalin Aras

Pendahuluan

Ada tanggal-tanggal yang tidak sekadar tertulis di kalender.

Ia hidup dalam ingatan bangsa. Ia menjadi luka yang mengajarkan kewaspadaan, duka yang mengajarkan kemanusiaan, dan sejarah yang meminta kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

30 September adalah salah satu tanggal itu.
Malam 30 September 1965 dan rangkaian peristiwa yang berlanjut hingga 1 Oktober menjadi salah satu lembar paling kelam dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Peristiwa Gerakan 30 September membawa korban jiwa dan mengguncang kehidupan politik serta ketatanegaraan Indonesia. Sejarah kemudian menempatkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila, yang secara resmi ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967.

Namun, setelah lebih dari enam dekade berlalu, barangkali ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar mengingat siapa yang kalah dan siapa yang menang ?.
Apa yang dapat kita pelajari dari luka sejarah itu untuk menjaga masa depan bangsa ?.

Sebab sejarah yang hanya dihafalkan akan menjadi tanggal.
Tetapi sejarah yang direnungkan akan menjadi hikmah.

30 September : Jangan Biarkan Bangsa Kehilangan Ingatan

Kita tidak boleh melupakan sejarah, tetapi mengingat sejarah bukan berarti mewariskan kebencian.

Mengenang tragedi masa lalu bukan berarti membuka kembali luka untuk saling mencurigai. Justru sebaliknya, sejarah semestinya menjadi cermin agar generasi hari ini memahami betapa mahal harga sebuah perpecahan.

Bangsa yang kehilangan ingatan akan mudah mengulangi kesalahan.

Dan bangsa yang menjadikan sejarah sebagai bahan kebencian akan terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu.

Karena itu, 30 September hendaknya kita tempatkan sebagai momentum untuk mengingat luka bangsa dengan kepala yang jernih dan hati yang matang.

Kita mengenang mereka yang gugur.
Kita menghormati sejarah.
Kita mempelajari konteks dan rangkaian peristiwanya.
Kita mengambil pelajaran.
Lalu kita berjalan ke depan.
Sebab Indonesia tidak boleh selamanya menjadi tawanan masa lalu.

1 Oktober : Pancasila Bukan Sekadar Upacara

Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar hari ketika kita berdiri tegak di lapangan, membaca teks Pancasila, mengheningkan cipta, lalu kembali kepada rutinitas masing-masing.

Pancasila akan benar-benar hidup apabila ia hadir dalam perilaku.
Ia hidup ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk bermusuhan.
Ia hidup ketika kekuasaan dipahami sebagai amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri.
Ia hidup ketika orang miskin tetap mendapatkan keadilan.
Ia hidup ketika pejabat mampu mendengar suara rakyat.
Ia hidup ketika rakyat mampu menyampaikan kritik tanpa kebencian.
Ia hidup ketika agama menjadi sumber kasih sayang, bukan alasan untuk saling meniadakan.
Ia hidup ketika politik menjadi jalan menghadirkan kemaslahatan, bukan sekadar pertarungan untuk saling menjatuhkan.

Dan ia hidup ketika kita menyadari bahwa Indonesia terlalu besar untuk dipersempit oleh perbedaan kepentingan sesaat.

Pancasila bukan hanya untuk diucapkan.
Pancasila adalah pekerjaan yang harus dikerjakan setiap hari.

Kepada pemerintah, sejarah memberikan pesan yang sederhana, bahwa
jangan jauh dari rakyat, sebab kursi kekuasaan memiliki batas waktu, sehingga setiap kebijakan dapat dirasakan rakyat dalam waktu yang panjang.

Pemerintahan yang kuat bukanlah pemerintahan yang tidak pernah dikritik.
Pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang mampu menerima kritik tanpa kehilangan arah, sebab kritik yang disampaikan dengan niat memperbaiki bukanlah ancaman, ia adalah bagian dari kehidupan demokrasi.

Begitu pula kepada masyarakat, jangan karena berbeda pilihan di bilik suara, kita kemudian kehilangan saudara di meja makan.
Jangan karena berbeda pendapat di media sosial, kita kemudian saling memutus silaturahmi di dunia nyata.

Jangan karena berbeda kepentingan politik, kita lupa bahwa setelah politik selesai, kita tetap harus hidup bersama.

Dan kita perlu memahami bahwa kemajuan sebuah bangsa, termasuk kemajuan sebuah daerah, tidak dibangun oleh satu orang, ia.dibangun oleh banyak tangan yang bersedia bekerja bersama.

Karena itu, jangan biarkan ruang digital menjadi tempat baru untuk mewariskan permusuhan lama.
Jadikan teknologi sebagai ruang belajar, jadikan perbedaan sebagai ruang bertukar pikiran.

Kesaktian Pancasila dan Masa Depan Daerah

Bagi daerah seperti Majene, Pancasila tidak perlu dicari maknanya terlalu jauh.
Ia ada di antara kita.
Ia ada ketika masyarakat bergotong royong membersihkan lingkungan.
Ia ada ketika kita membantu tetangga.
Ia ada ketika orang yang memiliki kelebihan berbagi dengan mereka yang membutuhkan.
Ia ada ketika pemerintah dan masyarakat duduk bersama mencari solusi.

Ia ada ketika pembangunan tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga memastikan bahwa manfaat pembangunan sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Sebab pembangunan yang kehilangan persaudaraan akan melahirkan jarak.
Dan pembangunan yang kehilangan keadilan akan melahirkan kecemburuan.
Karena itu, pembangunan daerah harus mempunyai dua kaki, kemajuan dan keadilan.

Kemajuan membawa kita menuju masa depan.
Keadilan memastikan tidak ada saudara kita yang tertinggal terlalu jauh.

Di sinilah Pancasila harus hadir bukan sebagai slogan, melainkan sebagai arah pembangunan.

Jangan Jadikan Sejarah Sebagai Api Permusuhan

Ada satu pesan penting yang perlu kita renungkan.
Sejarah adalah api, karena di tangan yang bijaksana, ia menjadi cahaya.
Di tangan yang tidak bijaksana, ia dapat menjadi bara.

Maka mari kita mengambil cahayanya, bukan membesarkan baranya.
Kita hormati para korban.
Kita pelajari tragedinya.
Kita pahami konteks sejarahnya.
Kita rawat ingatan bangsa.

Tetapi jangan kita wariskan dendam kepada anak cucu.
Sebab tugas generasi kita bukan memperpanjang luka.

Tugas kita adalah memastikan luka itu menjadi pelajaran agar tragedi serupa tidak terulang.

Pancasila sebagai Rumah Bersama

Pancasila adalah rumah besar kita.
Di dalam rumah itu ada banyak pintu, tetapi atapnya satu :
Indonesia.

Karena itu, jangan kita robohkan rumah bersama hanya karena berbeda cara menata ruang.

Dan kita bangun bersama apa yang belum selesai.
Sebab bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak kebencian.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak kejujuran, keteladanan, gotong royong, keadilan, dan persaudaraan.
Ingatlah sejarah, agar kita tidak mengulangi tragedi.

Hormatilah para korban, agar pengorbanan mereka tidak menjadi kesia-siaan.
Rawatlah persatuan, sebab perpecahan selalu meminta harga yang mahal.

Hiduplah Pancasila, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan.
Jadikan sila pertama sebagai cahaya iman.
Jadikan sila kedua sebagai wajah kemanusiaan.
Jadikan sila ketiga sebagai tali persaudaraan.
Jadikan sila keempat sebagai kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Dan jadikan sila kelima sebagai janji bahwa pembangunan harus menghadirkan keadilan.

Penutup

Akhirnya, Kesaktian Pancasila bukan hanya tentang bagaimana bertahan dari ancaman masa lalu.

Kesaktian Pancasila juga diuji dengan menghidupkan nilai-nilainya untuk menghadapi tantangan masa depan.

Sejarah tidak untuk dijadikan tempat menyimpan dendam, tetapi juga tidak untuk dilupakan.

Sebab bangsa yang kehilangan ingatan sejarah akan kehilangan sebagian dari kebijaksanaan untuk membaca masa depannya.

Hilangkan dendam kepada mereka yang pernah membuat luka, tetapi jangan hilangkan kewaspadaan terhadap segala sesuatu yang dapat membuat luka itu kembali.

Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah terluka, melainkan bangsa yang mampu mengubah luka sejarah menjadi kebijaksanaan untuk membangun masa depan.

Dan pembangunan masa depan Indonesia dimulai dari tempat kita berpijak, dengan membangun daerah, menjaga persaudaraan, dan menghadirkan keadilan bagi sesama.

Wassalam

Majene, 1 Oktober 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *