Pertaruhan Politik Anggaran Kaltim Lewat “Gratispol”

JAKARTA,kolomnews– Kalimantan Timur (Kaltim) saat ini berada di persimpangan sejarah yang amat menentukan. Dengan ditetapkannya daerah ini sebagai Superhub Ekonomi Nusantara —pusat aglomerasi dan pengembangan ekonomi baru berbasis klaster masa depan— tantangan terbesar yang dihadapi bukanlah sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan penyiapan kapasitas manusia (human capital).

Di tengah gelombang transisi besar ini, Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, mengambil langkah radikal dan terukur melalui peluncuran program “Gratispol” (Kuliah Gratis untuk Semua Anak Kalimantan Timur).

Berlandaskan Peraturan Gubernur Kaltim Nomor 24 Tahun 2025 tentang Bantuan Biaya Pendidikan bagi Mahasiswa pada Perguruan Tinggi, program ini bukan sekadar instrumen bantuan sosial, melainkan sebuah pertaruhan politik anggaran jangka panjang untuk mencetak SDM yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Desember 2025, Kaltim sebenarnya telah memiliki modal sosial-pendidikan yang kuat: menempati peringkat ke-4 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) nasional dengan skor 79,39, menduduki peringkat pertama Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK sederajat (99,59), serta berada di peringkat ke-7 APK Pendidikan Tinggi (40,44).

Namun, Gubernur Rudy Mas’ud memandang angka-angka tersebut sebagai pijakan awal, bukan garis finis. Program Gratispol dirancang untuk mendobrak hambatan finansial yang kerap memutus rantai pendidikan tinggi anak-anak Kaltim.

“Pendidikan ini sangat sangat memiliki multiefek. Terutama adalah efek ekonomi, efek politik, efek daripada kesejahteraan, kesehatan ini sangat penting.” Ujar Rudy.

Gubernur Kaltim juga mengungkapkan data bahwa jumlah penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi masih sangat rendah.

“Bagaimana kita mau bicara tentang pertumbuhan ekonomi, bagaimana kita mau berbicara tentang kesehatan kalau pendidikan kita hanya, mohon maaf yang mengenyam pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi atau sarjana hanya delapan sampai dengan sembilan persen.” Kata Rudy Mas’ud saat menyampaikan paparan di acara Sarasehan Mitra Beasiswa yang diadakan oleh Kemendikristek ( 16/9 ).

Rudy juga menjelaskan dampak pendidikan terhadap kemandirian ekonomi, kalau lulusan SMA ini hanya mampu menghidupin diri sendiri. Kalau pendidikannya di bawah dari SMA, kurang dari SMA, SMP tidak lulus, SMA tidak lulus, SD tidak lulus maka ini akan menjadi beban kita semua.

“Kalau anak-anak kita sudah memiliki pendidikannya sampai dengan sarjana apalagi S2, S3 itu akan mampu menghidupin yang lainnya,” pungkasnya.(Ril/kn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *