Oleh : Muh. Arsalin Aras
Ketika Bahasa Ibu Menjadi Jalan Menuju Prestasi.
Pendahuluan
Ada kebanggaan tersendiri ketika mendengar kabar bahwa anak-anak daerah mampu berprestasi dan membawa nama daerahnya ke tingkat yang lebih tinggi. Kebanggaan itu semakin bermakna ketika prestasi yang diraih tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga menyangkut kecintaan terhadap bahasa dan kebudayaan sendiri.
Alhamdulillah, putra-putri terbaik Kabupaten Majene kembali mengukir prestasi membanggakan. Dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Tahun 2026, kontingen Majene berhasil meraih predikat Juara Umum dengan torehan 9 medali emas dan 5 medali perak, melalui pengumuman resmi yang disampaikan dalam acara Selebrasi FTBI 2026 yang berlangsung di Hotel Novotel Makassar, Jumat malam ( 30 oktober 2026 ).
Capaian ini tentu patut kita syukuri bersama. Ada kebahagiaan ketika melihat anak-anak usia sekolah tampil percaya diri menggunakan Bahasa Mandar, berpidato, mendongeng, menulis cerpen, serta menunjukkan kreativitas mereka melalui bahasa ibu.
Keberhasilan ini memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar kemenangan dalam sebuah perlombaan. Ada pesan penting yang patut kita renungkan: generasi muda Majene ternyata memiliki kemampuan, kemauan, dan kebanggaan untuk menjaga warisan kebudayaannya sendiri.
Bahasa bukan hanya sarana untuk menyampaikan pikiran. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai kehidupan, petuah orang tua, dan cara suatu masyarakat mengenali dirinya. Karena itu, ketika anak-anak kita tampil dengan Bahasa Mandar, sesungguhnya mereka sedang memperlihatkan bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat dalam kehidupan generasi sekarang.
Ada Ketulusan dan Kerja Keras
Keberhasilan meraih Juara Umum tentu tidak datang begitu saja. Di balik hasil yang membanggakan itu ada proses pembinaan, latihan, kesabaran, dan pengorbanan waktu dari banyak pihak.
Raihan 9 emas dan 5 perak dari jenjang SD dan SMP merupakan hasil kerja bersama para siswa, guru pendamping, pelatih, kepala sekolah, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses persiapan hingga pelaksanaan lomba.
Anak-anak yang telah berjuang layak mendapatkan apresiasi. Mereka telah menunjukkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk berprestasi. Dengan kesempatan, bimbingan, dan kesungguhan, mereka mampu tampil sebagai yang terbaik, bahkan dalam bidang yang berkaitan langsung dengan identitas kebudayaan daerah.
Apresiasi yang sama patut kita sampaikan kepada para Guru Utama Revitalisasi Bahasa Daerah edisi 2025 dan 2026. Peran mereka sangat berarti dalam mendampingi peserta sejak kegiatan diseminasi, FTBI tingkat kabupaten, hingga persiapan dan pendampingan di tingkat provinsi.
Ucapan terima kasih juga layak diberikan kepada Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Majene, Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga Kabupaten Majene, para kepala sekolah, Koordinator FTBI Kontingen Kabupaten Majene beserta seluruh tim, para pembimbing, sponsor, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan, baik moril maupun materil.
Kita tentu memahami bahwa sebuah prestasi tidak lahir dari kerja satu atau dua orang. Ada guru yang meluangkan waktu untuk membimbing, ada kepala sekolah yang memberikan dukungan, ada orang tua yang menguatkan anak-anaknya, serta ada berbagai pihak yang bekerja di balik layar.
Mungkin tidak semua nama disebut ketika piala diserahkan. Namun, kontribusi mereka menjadi bagian penting dari keberhasilan yang hari ini kita rayakan.
Bahasa Mandar : Warisan Leluhur, Identitas, dan Jati Diri
Ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan dari keberhasilan FTBI ini, yakni pentingnya menjaga keberlangsungan Bahasa Mandar.
Revitalisasi bahasa daerah tidak seharusnya dipandang sebatas kegiatan perlombaan atau agenda tahunan. Kegiatan seperti FTBI memang penting untuk memberikan ruang bagi anak-anak menunjukkan kemampuan mereka. Namun, tujuan yang lebih besar adalah memastikan bahasa daerah tetap digunakan dan diwariskan.
Bahasa Mandar merupakan bagian dari identitas masyarakat Mandar. Di dalamnya terdapat kesantunan bertutur, kebijaksanaan, sejarah, petuah kehidupan, dan kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Kita tentu tidak ingin Bahasa Mandar hanya dikenal melalui cerita tentang masa lalu. Jangan sampai anak-anak kita kelak lebih mengenal bahasa leluhurnya sebagai sesuatu yang pernah ada, tetapi tidak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pelestarian bahasa harus dimulai dari lingkungan terdekat. Keluarga memiliki peran penting memperkenalkan dan membiasakan anak menggunakan bahasa ibu. Sekolah dapat memperkuatnya melalui pembelajaran dan kegiatan kebudayaan, sementara masyarakat menjadi ruang tempat bahasa itu terus hidup.
Kita tidak perlu mempertentangkan penguasaan bahasa daerah dengan kemampuan berbahasa Indonesia ataupun bahasa asing. Anak-anak Majene harus tetap mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan kebanggaan terhadap asal-usul dan kebudayaannya.
Kemajuan zaman seharusnya membuka kesempatan lebih luas bagi kebudayaan daerah untuk dikenal, bukan justru membuatnya semakin ditinggalkan.
Pendidikan dan Kebudayaan, Menumbuhkan Peradaban
Prestasi anak-anak Majene dalam FTBI memberikan gambaran bahwa pendidikan memiliki ruang yang sangat luas untuk mengembangkan potensi peserta didik.
Selama ini, keberhasilan pendidikan sering kali lebih mudah dilihat melalui capaian akademik. Padahal, kemampuan berbahasa, mengenal kebudayaan, mengembangkan kreativitas, dan menghargai identitas daerah juga merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
Anak-anak yang tampil dalam FTBI telah memperlihatkan bahwa bahasa daerah dapat menjadi ruang belajar yang menarik. Melalui pidato, dongeng, stand up comedy, dan penulisan cerpen, mereka tidak hanya belajar menggunakan bahasa, tetapi juga melatih keberanian, daya pikir, imajinasi, dan kemampuan menyampaikan gagasan.
Hal seperti inilah yang patut terus dikembangkan di lingkungan pendidikan kita.
Sekolah jangan hanya menjadi tempat mengejar nilai dan menyelesaikan kurikulum. Sekolah juga harus memberikan ruang bagi tumbuhnya bakat, minat, karakter, serta kecintaan peserta didik terhadap lingkungan dan kebudayaan tempat mereka dibesarkan.
Pendidikan yang baik bukan hanya mempersiapkan anak untuk menghadapi masa depan, tetapi juga membekali mereka agar tidak kehilangan nilai-nilai yang menjadi bagian dari dirinya.
Prestasi Menjadi Energi bagi Kebijakan
Raihan Juara Umum FTBI 2026 hendaknya tidak berhenti pada rasa bangga dan ucapan selamat. Keberhasilan ini sepatutnya menjadi momentum bagi kita untuk memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pembinaan dan pelestarian Bahasa Mandar.
Pemerintah Kabupaten Majene diharapkan terus memperkuat dukungan terhadap program revitalisasi bahasa daerah. Dukungan tersebut penting diwujudkan melalui kebijakan yang berkelanjutan, penguatan program pendidikan, regulasi yang mendukung, serta penganggaran yang memadai.
Harapan ini bukan semata-mata karena Majene berhasil menjadi juara umum. Lebih dari itu, bahasa daerah merupakan bagian dari kekayaan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya. Pelestariannya tidak cukup diserahkan kepada para guru bahasa atau komunitas kebudayaan saja. Diperlukan keterlibatan pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat.
Prestasi kali ini juga menunjukkan bahwa potensi anak-anak Majene cukup besar. Mereka hanya membutuhkan ruang untuk berkembang, pembinaan yang berkesinambungan, dan dukungan yang tidak berhenti setelah sebuah perlombaan selesai.
Akan sangat disayangkan apabila semangat yang telah dibangun melalui FTBI hanya muncul menjelang kompetisi. Justru setelah keberhasilan ini, pembinaan harus semakin diperkuat agar anak-anak yang memiliki bakat dapat terus berkembang dan melahirkan prestasi berikutnya.
Dari Perlombaan Menuju Gerakan Pelestarian
Salah satu hal terpenting yang harus kita petik dari FTBI 2026 adalah bagaimana membawa semangat perlombaan ini ke dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan sampai Bahasa Mandar hanya ramai digunakan ketika ada kegiatan festival atau perlombaan. Bahasa ibu harus tetap menjadi bagian dari komunikasi dalam keluarga, pergaulan masyarakat, dan kegiatan pendidikan.
Para orang tua dapat memulainya dengan membiasakan anak-anak berbicara dalam Bahasa Mandar di rumah. Sekolah dapat memberikan ruang lebih luas melalui kegiatan literasi dan pembelajaran bahasa daerah. Pemerintah daerah pun dapat memperkuat program revitalisasi agar pelestarian bahasa tidak bergantung pada kegiatan tertentu.
Dengan demikian, keberhasilan FTBI tidak hanya menghasilkan para juara, tetapi juga mendorong semakin banyak anak muda untuk mengenal, menggunakan, dan mencintai Bahasa Mandar.
Sebab, ukuran keberhasilan pelestarian bahasa bukan hanya berapa banyak medali yang diperoleh, melainkan sejauh mana bahasa itu tetap hidup dan digunakan oleh masyarakatnya.
Menjaga Bahasa, Merawat Jati Diri, Menyemai Masa Depan
Kepada anak-anak hebat Majene yang telah mengharumkan nama daerah, teruslah belajar dan berkarya. Prestasi yang kalian raih hari ini hendaknya menjadi penyemangat untuk meraih keberhasilan yang lebih besar pada masa mendatang.
Jangan pernah merasa bahwa menggunakan bahasa daerah akan membatasi langkah kalian untuk maju. Justru kenalilah bahasa dan kebudayaan sendiri sebagai bagian dari kekuatan yang kalian miliki. Kalian boleh bercita-cita setinggi mungkin, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berkiprah di mana pun, tetapi jangan lupa pada bahasa dan tanah tempat kalian tumbuh.
Kepada para guru, pembimbing, dan seluruh tenaga pendidik, terima kasih atas ketulusan dalam mendampingi anak-anak kita. Apa yang dilakukan hari ini bukan sekadar mempersiapkan peserta untuk sebuah perlombaan, tetapi juga membantu menanamkan kecintaan terhadap kebudayaan kepada generasi penerus.
Kepada seluruh masyarakat Majene, mari kita ikut menjaga kebanggaan ini. Pelestarian Bahasa Mandar bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau sekolah, melainkan tanggung jawab kita bersama. Mulailah dari hal sederhana: tetap menggunakan bahasa ibu, mengajarkannya kepada anak-anak, dan memberikan penghargaan kepada mereka yang berusaha melestarikannya.
Penutup
Pada akhirnya, kita tentu bangga ketika nama Majene diumumkan sebagai Juara Umum FTBI 2026. Namun, kebanggaan itu akan jauh lebih bermakna apabila keberhasilan ini menjadi awal dari perhatian dan gerakan yang lebih besar untuk menjaga Bahasa Mandar.
Sembilan medali emas dan lima medali perak adalah hasil yang patut disyukuri. Akan tetapi, ada warisan yang jauh lebih berharga untuk kita jaga, yakni bahasa yang menjadi bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Mandar.
Selamat dan sukses untuk seluruh kontingen FTBI Kabupaten Majene Tahun 2026. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mengambil bagian dalam keberhasilan ini.
Majene boleh berbangga dengan prestasi hari ini. Namun, tugas kita belum selesai. Sebab, menjaga Bahasa Mandar agar tetap hidup bukan hanya tentang mengenang warisan leluhur, melainkan tentang memastikan generasi mendatang masih memiliki kebanggaan terhadap bahasa dan kebudayaannya sendiri.
Majene juara, Bahasa Mandar berjaya. Semoga semangat anak-anak kita terus tumbuh, prestasinya semakin tinggi, dan kebudayaan Mandar tetap hidup sepanjang zaman.
Wassalam.
Majene, 2 November 2026.
