Catatan Pinggir
Oleh : Salim Majid( Wartawan )
Hati yang renyah dan kering kini pelan mulai terasa lembut memasuki kompleks Pondok Pesantren Attahariyah An- Nahdiyah milik pengasuh Annangguru KM.Ahmad Multazam cucu seorang Waliyullah Imam Lapeo di Tanah Mandar Sulbar.
Panggung yang sederhana di pelataran Ponpes, baliho berukuran sederhana terpangpang tulisan Tabliq Akbar plus foto ulama muda Buya Arrazy bersama annangguru KM. Dr.Ahmad Multazam membawa suasana hikmat dan tenang.
Eforiah religius mulai menyelimuti wajah para jamaah yang datang dari berbagai penjuru untuk satu tekad menghadiri kajian yang bernas dan penuh hikmah.
Lantunan dzikir dan shalawat yang di pandu sang Mursyid tarekat KM Ahmad Multazam membawa semua hati untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta Allah SWT.
Tak sanggup saya mencatat setiap aksara yang menikam kalbu ini. Kajian yang dalam membawa kita pada ruang yang hampa dan kosong. Betapa tak berdayanya kita di hadapan Sang Penguasa langit dan bumi.
Dr.Buya Arrazy mengupas secara mendalam tentang ilmu mengenal Allah ( Marifatullah) menjadi pengobat sekaligus intoropeksi bagi jamaah yang hadir, yang memunculkan sejuta tanya di dalam hati. Apakah kita sudah mengenal Allah?
Pertanyaan itu terus menggeliat di benak, untuk terus mengevaluasi sudah seberapa jauh progres dan kualitas ibadah ( sholat ) yang kita lakukan selama ini?. Apakah segedar menggugurkan kewajiban kita ?. Sudah mengenalkah yang kita sembah?
Saya tak ingin menulis lebih detail tentang masalah itu, namun Buya Arrazy sudah memberi satu gambaran konkrit bahwa mengingat, menyebut dan mengenal adalah hal yang berbeda.
Kerinduan kita kepada Allah dan Rasulullah menjadi hal penting akan dekatnya hati kepada Sang Pemilik-Nya, dan jika sudah merindu In Syaa Allah akan mengenal-Nya. Apakah kita sudah merindu?
Konsep fana dan kalbu yang bening seperti yang diuraikan Buya Arrazy menjadi point penting untuk mengenal Sang Pencipta. Sebab yang berwujud hanya Allah dan Allah hanya memandang kalbu yang bening.
Tak terasa waktu dua jam lebih duduk, tubuh ini tak ingin beranjak dan tak terasa capek. Roh ini tak ingin meninggalkan nikmatnya kelezatan makanan yang tak mungkin kita biarkan berlalu tanpa makna.
Kajian yang penuh berkah ini, Buya Arrazy menutupnya dengan sentuhan Sholawat dan doa yang menembus kalbu dan tak terasa air mata ini menetes. Semoga kita semua menjadi hamba – hamba yang senantiasa merindu kepada Sang Kekasih Allah Rasulullah Saw.(**)
