BAHASA MANDAR : MENJAGA KATA, MERAWAT JATI DIRI

Oleh : Muh. Arsalin Aras

Pendahuluan

Lestarikan Bahasa Daerah, Wujudkan Generasi Berkarakter

Ada warisan yang tidak selalu disimpan di dalam peti, tidak pula diletakkan di museum. Ia hidup di antara percakapan orang tua dan anak, tumbuh dalam sapaan sehari-hari, terdengar dalam nasihat seorang ibu, dan mengalir dalam tutur seorang ayah.

Bahasa bukan sekadar susunan kata. Di dalamnya tersimpan cara suatu masyarakat memandang kehidupan, menghormati sesama, mengenang leluhur, memahami alam, serta menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya.

Demikian pula bahasa Mandar, bukan hanya alat untuk berbicara di antara sesama orang Mandar. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif, cermin kebudayaan, dan salah satu penanda jati diri masyarakat yang tumbuh di Tanah Mandar.

Di dalam bahasa terdapat sejarah yang tidak tertulis. Ada petuah yang diwariskan dari mulut ke mulut, ada kesantunan yang dibentuk melalui pilihan kata, ada penghormatan kepada orang tua, ada nilai persaudaraan, keberanian, kejujuran, dan penghormatan kepada sesama.

Karena itu, ketika sebuah bahasa mulai jarang digunakan, sesungguhnya yang perlahan-lahan memudar bukan hanya kosakatanya, yang ikut terancam adalah sebagian dari cara sebuah generasi mengenali akar budayanya.

Bahasa dan Karakter Generasi

Kita tentu tidak ingin anak-anak kita tumbuh sebagai generasi yang mengenal bahasa daerahnya hanya dari buku pelajaran, panggung pertunjukan, atau cerita tentang masa lalu.

Bahasa daerah seharusnya tidak berhenti sebagai pelajaran di ruang kelas. Ia perlu dihidupkan dalam kehidupan.

Anak-anak perlu mendengar bahasa Mandar di rumah, mereka perlu menggunakannya dalam percakapan dengan orang tua dan keluarga. Mereka perlu mengenalnya di sekolah, dalam kegiatan kebudayaan, dalam cerita rakyat, seni tradisi, permainan tradisional, hingga berbagai kegiatan masyarakat.

Sebab bahasa yang hanya diajarkan tetapi tidak digunakan akan menjadi pengetahuan. Sementara bahasa yang digunakan dengan kesadaran akan menjadi kebiasaan, identitas, dan karakter.

Sekolah Memiliki Peran Penting

Sekolah bukan hanya tempat anak-anak belajar membaca, menulis, berhitung, dan memperoleh pengetahuan. Sekolah juga merupakan ruang untuk mempertemukan ilmu pengetahuan dengan akar kebudayaan.

Anak-anak kita boleh belajar bahasa asing untuk membuka jendela dunia. Mereka boleh menguasai teknologi untuk menghadapi masa depan. Mereka harus mampu berjalan mengikuti perubahan zaman.

Tetapi jangan sampai ketika mereka melangkah jauh menuju dunia, mereka lupa dari tanah mana mereka berasal.

Semakin tinggi seorang anak terbang, semakin penting ia mengenal akar yang membuatnya mampu berdiri.

Dari Sekolah, Bahasa Mandar Dihidupkan

Karena itu, upaya pelestarian bahasa Mandar perlu terus ditingkatkan mutunya, bukan sekadar menambah jam pelajaran, tetapi menghadirkan bahasa daerah sebagai bagian dari pengalaman kebudayaan yang menyenangkan dan bermakna.

Bahasa Mandar dapat dihidupkan melalui kegiatan membaca dan menulis, pidato, cerita rakyat, puisi, teater, lagu daerah, permainan tradisional, lomba budaya, dokumentasi cerita para tetua, hingga berbagai kegiatan seni dan kebudayaan lainnya.

Pelestarian bahasa Mandar juga dapat diintegrasikan dengan berbagai event kebudayaan, sehingga anak-anak tidak hanya belajar tentang bahasa, tetapi mengalami sendiri bagaimana bahasa menjadi bagian dari kehidupan budaya mereka.

Dengan demikian, bahasa tidak menjadi sesuatu yang terasa kuno dan jauh dari kehidupan anak muda, sebaliknya, bahasa Mandar dapat hadir dengan wajah yang segar, kreatif, dan relevan dengan zaman.

Kita tidak sedang membawa anak-anak kembali ke masa lalu.
Kita sedang membawa warisan masa lalu untuk menemani mereka membangun masa depan.

Dimulai dari Rumah

Namun sekolah tidak mungkin bekerja sendirian.
Pelestarian bahasa daerah sesungguhnya bermula dari tempat paling sederhana : rumah.

Dari seorang ibu yang menyapa anaknya dengan bahasa Mandar. Dari seorang ayah yang mengajarkan makna sebuah kata. Dari seorang kakek dan nenek yang menceritakan kisah masa lalu dengan bahasa yang diwariskan leluhur.

Di situlah bahasa menemukan rumahnya.
Sebab tidak ada guru bahasa yang lebih awal daripada keluarga.
Anak-anak pertama kali mengenal dunia melalui suara orang tuanya.

Maka jika bahasa Mandar ingin tetap hidup, jangan biarkan bahasa itu hanya terdengar ketika ada perlombaan atau acara kebudayaan.

Gunakan di ruang keluarga. Gunakan di lingkungan. Gunakan dengan penuh kebanggaan, tetapi tetap dengan sikap terbuka terhadap bahasa lain.

Sebab mencintai bahasa daerah bukan berarti menutup diri dari dunia, justru orang yang mengenal akar budayanya akan lebih percaya diri ketika berdiri di tengah keberagaman dunia.

Melestarikan Bukan Berarti Membekukan

Kita juga perlu memahami bahwa melestarikan bahasa bukan berarti menjadikannya benda yang beku dan tidak boleh berubah.
Bahasa adalah makhluk kebudayaan yang hidup. Ia dapat berkembang mengikuti zaman, beradaptasi dengan teknologi, dan menemukan ruang baru di tengah kehidupan generasi muda.

Karena itu, pelestarian bahasa Mandar membutuhkan kreativitas.

Bahasa Mandar dapat hadir di ruang digital, media sosial, konten kreatif, video pendek, musik, literasi sekolah, podcast, dokumentasi budaya, bahkan dalam berbagai karya anak muda.

Dengan cara demikian, bahasa Mandar tidak hanya dikenang sebagai bahasa para leluhur, tetapi menjadi bahasa yang masih memiliki masa depan.

Sebab kebudayaan yang hanya dikenang akan menjadi sejarah, tetapi kebudayaan yang terus digunakan akan tetap menjadi kehidupan.

Tanggung Jawab Kita Bersama

Melestarikan bahasa Mandar bukan hanya tugas pemerintah.

Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk membuat kebijakan, menyediakan ruang kebudayaan, mendukung pendidikan bahasa daerah, mendorong kegiatan literasi, serta membuka ruang kolaborasi bagi sekolah dan masyarakat.

Guru memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan dengan kreativitas.
Orang tua memiliki tanggung jawab untuk membiasakan.
Tokoh budaya memiliki tanggung jawab untuk mewariskan pengetahuan.
Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga ruang hidupnya.

Dan anak-anak muda memiliki tanggung jawab untuk menerima warisan itu, mengembangkannya, lalu menyerahkannya kembali kepada generasi setelah mereka.

Inilah mata rantai kebudayaan, karena yang diwariskan bukan untuk disimpan, tetapi untuk diteruskan.

Bahasa Adalah Jalan Pulang

Pada akhirnya, bahasa adalah jalan pulang.
Sejauh apa pun anak-anak kita kelak pergi, setinggi apa pun pendidikan yang mereka raih, secanggih apa pun teknologi yang mereka kuasai, selalu ada sesuatu yang menghubungkan mereka dengan tanah kelahirannya.

Salah satunya adalah bahasa, ketika seorang anak masih mampu memahami bahasa leluhurnya, ia masih memiliki salah satu pintu untuk memahami siapa dirinya.

Ketika ia mampu mengucapkan kata-kata Mandar dengan bangga, sesungguhnya ia sedang berkata kepada dunia bahwa ia tahu dari mana ia berasal.

Maka mari kita rawat bahasa Mandar dengan penuh kecintaan.
Mari mulai dari diri sendiri. Dari rumah. Dari keluarga. Dari orang tua. Dari sekolah. Dari guru. Dari lingkungan masyarakat. Dan dari anak-anak didik kita.

Mari terus tingkatkan mutu pembelajaran bahasa daerah, sambil mengintegrasikannya dengan seni, sastra, sejarah, tradisi, dan berbagai event kebudayaan lainnya.

Penutup

Menjaga bahasa bukan sekadar menjaga kata.

Sebab bahasa adalah identitas. Bahasa adalah warisan. Bahasa adalah ingatan.

Dan ketika kita menjaga bahasa Mandar hari ini, sesungguhnya kita sedang menjaga sebuah jembatan agar anak-anak kita esok hari tetap dapat berjalan menuju masa depan tanpa kehilangan jalan untuk mengenali masa lalunya.

Kita sedang menjaga jati diri, merawat kebudayaan, dan menitipkan wajah Tanah Mandar kepada generasi yang akan datang.

Wassalam

Majene, 9 Oktober 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *