Oleh : KM.Dr Ahmad Multazam S.PDI.,M.Si
Goresan ini saya tulis sebagai saksi bisu atas sebuah perjalanan.
Perjalanan menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026.
Keberangkatan saya awali dengan hanya mengepak pakaian seadanya. Sarung, kopiah, baju. Namun dalam proses itu terjadi satu interupsi penting dari ranah domestik. Istri mengingatkan: “Abah, jangan lupa membawa serban.”
Perintah kecil itu memiliki makna sosiologis yang besar. Serban di tradisi NU bukan sekadar aksesoris. Ia adalah simbol adab, keulamaan, dan identitas kultural santri. Mengabaikannya berarti mengabaikan etika berpakaian di hadapan para ulama.
Di ruang virtual, komunikasi dengan sesama peserta juga mulai intens. Pertanyaan klasik muncul: bagaimana skema keberangkatan? Saya menjawab dengan dialektika guyon dan serius: “Kita berangkat ke Jombang sebagai peserta Romli, sekaligus sebagai peziarah intelektual untuk ngalap berkah kepada para Ulama Sepuh.”
Muktamar di Bahrul Ulum memiliki beban sejarah. Tanah ini adalah tempat lahirnya tradisi keilmuan NU. Maka kehadiran kami bukan hanya bersifat administratif-politis sebagai peserta. Lebih dari itu, ia adalah bentuk ziarah kultural dan reproduksi legitimasi keulamaan NU dari generasi ke generasi.
Dalam kerangka itu, selembar serban, secarik sarung, dan niat ngalap berkah menjadi narasi kecil yang merepresentasikan narasi besar: bahwa NU dijaga bukan hanya oleh struktur, tetapi juga oleh adab.(*)
Jombang, Agustus 2026
