Bantul, kolomnews.com – Brand Owner “Omah Sawah,” Widodo mengaku, sebelum lahan garapannya berupa petak sawah yang berselimut sunyi ditemani bunyi-bunyian serangga malam area persawahan itu disulap menjadi resto jujugan dengan pencahayaan lampu nan eksotik membuai malam, awalnya hanya sebuah gubug kecil tempat ngisis.

Widodo berkisah sempat menelan pil pahit kegagalan kala berulang kali menjajal sejumlah komoditas pertanian di atas lahan garapannya. Gegara secara hitung-hitungan bisnis, panenan yang diunduh selalu tak sepadan dengan modal dan tenaga yang dikeluarkan alias nombok. Akhirnya, julukan ‘petani tulen’ yang melekat pada dirinya pun secara perlahan dilucuti.

 

“Dalam kegagalan itu saya sempat merenung. Padahal saya juga sudah terlanjur basah. Akhirnya saya membuat gubug. Yang untuk jualan (Omah Sawah Resto) itu. Untuk ngisis-ngisis. Akhirnya saya menemukan pemikiran baru. Kiro-kiro nak nggo warung nang tengah sawah ki cocok apa tidak?” ucap Widodo saat disambangi Reporter kolomnews.com di Omah Sawah Resto, Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Bantul, Minggu (20/5/2024) malam.

Walau perlahan, berawal jualan Bakmi Jawa level kecil-kecilan, kini usaha rintisan yang semula menempati dua gubug itu menjadi resto jujugan bernuansa malam di area persawahan utara Pabrik Gula Madukismo. Tak soal sekalipun tak melulu berorientasi bisnis, resto dengan seluruh pencapaiannya ini bakal dikerek naik agar brand “Omah Sawah” melekat bersama dalam genggaman hati pengunjung.

“Memang pak. Saya di sini ini tidak murni untuk bisnis. Memang di sini ini, nggak [melulu berbisnis]. Menjadi apa, menjadi sebuah edukasi untuk wawasan wisata. Wisata kecil-kecilan. Untuk santai-santai. Jadi, itu pemikiran saya,’ ungkapnya.

“Kalo hanya menjual Bakmi, wong di sini banyak. Di sini hampir ada berapa itu di sini. Dari Madukismo ke barat itu hampir ada 6 sampai 7 titik [penjual Bakmi Jawa]. Tetapi belum memunculkan wawasan kawasan yang seperti ini. Alhamdulillah, sampai malam ini kelihatannya antusias pengunjung masih besar,” imbuhnya.

Widodo pun tak menampik hasil yang diperoleh dari berjualan bakmi Jawa di Omah Sawah Resto terkadang menemui pasang surut. Kendati demikian, dia percaya selama resto berwawasan kawasan persawahan miliknya masih menjadi jujugan berwisata merefresh diri menjauh dari kepenatan, terkhusus ramai dikunjungi pada malam akhir pekan. Maka, dirinya yakin bakal tetap menyantolkan pengharapan, hidup dari berjualan Bakmi Jawa di Omah Sawah Resto.

“Alhamdulillah, Tuhan masih mengijinkan di sini. Mencari penghidupan dari berjualan bakmi [Jawa],” tutur dia memungkasi wawancara.

Penulis: Muh Sanusi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *