Bantul, kolomnews.com- Ekonomi Berkah dalam pemaknaannya kerap kali hanya bermuara pada sebuah pertanyaan, “bagaimana peran pesantren memakmurkan negara?” Kemudian, berbekal sedikit mengimajinasi kondisi perekonomian ke depan yang penuh ketidakpastian, lalu merespons pertanyaan tersebut dengan jawaban, “[buah manis] geliat perekonomian yang digerakkan Pondok Pesantren (Ponpes) juga diharap tak hanya terus bertumbuh hingga bakal menghidupi aktivitas kelembagaan pesantren memproduksi pengetahuan. Namun, [pertumbuhannya] layak dikerek naik agar terus melejit, bahkan berkontribusi besar menyumbang kemakmuran Negara.”

Jawaban tersebut, sudah barang tentu bukanlah hal yang enteng untuk diucap. Apakah salah? Tentu bergantung pada bagaimana mengidentifikasi persoalan yang ditemukan serta gagasan perubahan yang dicanangkan. Jika perubahan diletakkan pada jantung ekonomi-politik yang menghendaki tansformasi mendasar dari tatanan struktur ekonomi yang selama ini eksis beroperasi, maka perlu mendiskusikannya lebih serius.

Sebab, mahfum bahwa sistem ekonomi-politik yang beroperasi saat ini adalah sistem kapitalisme. Nyaris tidak ada negara yang tidak terintegrasi ke dalamnya, tak terkecuali di Tanah Air kita. Integrasi ekonomi Nusantara ke dalam sistem ekonomi dunia telah dimulai pada masa Orde Baru dan integrasinya kian dalam pasca reformasi. Akibat dari pengitegrasian ini, muncul berbagai problem sosial yang bersifat struktural, seperti kemiskinan, keterbelakangan, hingga gap antara si kaya dan si miskin yang sangat curam. Sedemikian parah penyakit itu sehingga upaya untuk menyembuhkannya pun membutuhkan operasi besar dan mendasar.

Founder “Angkringan Sawah,” M. Habib Abdul Syakur mengungkapkan bahwa “Angkringan Sawah” tidak hanya sebatas entitas Brand Lokal. Akan tetapi, kata dia, Angkringan Sawah merupakan ekosistem kolaborasi yang tepat sebagai sarana belajar menumbuhkan semangat UMKM-Preneur Muda sekaligus memberdayakan usaha lokal. Dia pun memupuk harapan agar UMKM terus melaju, berinovasi, mengadaptasi, dan berkreasi memajukan khazanah kuliner asli Nusantara.

Tak luput jika berkaca pada kata “Sawah” menjadi pilihan diksi di balik gabungan dua entitas lokal brand “Angkringan Sawah” yang selanjutnya membentuk manifestasi anti-kolonialisme berakar dari peristiwa-peristiwa penting menyejarah. Salah satunya, fase penting bersejarah Perang Jawa, yaitu selama Pangeran Diponegoro bermarkas di Gua Selarong.

Sejarah mencatat peristiwa perang Jawa 1825-1830 terdapat fase penting kala Pangeran Diponegoro bersama Pangeran Mangkubumi, Pangeran Angabei Jayakusumo, Alibasyah Sentot Prawiradirja, dan Kyai Maja berembug mengatur siasat perang melawan kolonialisme pendudukan Belanda. Kala itu, Diponegoro bergerilya sembari mengatur siasat dari markasnya di Gua Selarong, Dusun Kembang Putihan, Desa Guwosari, Kapanewon Pajangan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Juli 1825.

Selama perang berkecamuk, tercatat sekira 8.000 serdadu Eropa tewas. Dikabarkan pula, peperang menghadapi Pangeran Diponegoro menelan dana tidak kurang dari 20 Juta Gulden. Bisa dibayangkan, perang Diponegoro merupakan perang besar di Jawa selama periode awal Abad 19. Bahkan, sedemikian hebatnya perlawanan yang dikobarkan Diponegoro, sampai-sampai pemerintah kolonial harus berganti strategi hanya untuk menghadapi peperangan ini.

Selanjutnya, Mbah Kyai M Habib Abdul Syakur selaku Founder yang ogah di-stempel dengan predikat enggan memulai perubahan sistematis lantas menyebut, diksi “Sawah” dinukil dari gabungan huruf pertama dua kata ‘Nama Kecil’ dan dua kata ‘Nama Islam-nya’ Pangeran Diponegoro. “Syaikh Anta Wirya Abdul Haq” kemudian disingkat dengan kata “Sawah.”

“Disamping harapan kita, itu bagian dari untuk membina anak-anak muda agar mereka di isi belajar pesantren dan juga belajar entrepreneur. Itu pada dasarnya,” tutur M Habib Abdul Syakur.

Mbah Kyai demikian karib disapa juga mantap mendukung kerjasama dengan media online kolomnews.com. Pihaknya pun berharap para redaktur maupun jurnalis kolomnews men-creat cara membangun traffic lewat rilis-rilis media online maupun mendevelop Sosial Media Manajemen yang impact-nya Angkringan Sawah mendapat eksposur dari market yang ditarget.

“Bagaimana promosi-promosi itu biar masyarakat tertarik ke sini. Dan, justru kami mohon masukan,” imbuhnya.

Senada, Owner Angkringan Sawah, Sir Auialhuda Tazavvan menyebut Angkringannya merupakan ruang belajar memproduksi entrepreneur muda tangguh yang melek digital marketing.

Berbekal Angkringan Sawah sebagai ruang belajar bisnis proses berbasis manajemen pelayanan atau ‘menjual servis,’ bahkan melakoni pemberdayaan hingga menelorkan santri-Preneur mumpuni jebolan pesantren, Pria yang karib disapa Gus Taza itu lantas menepis anggapan sebagian masyarakat bahwa santri ponpes hanya belajar ilmu agama.

“Sak niki niku kan pandangan tiyang kan teng pondok niku arep ngopo? Wong isone mung ngaji. Padahal diajari macem-macem. Termasuk, wonten mriki niki Kulo memberdayakan alumni. Alumni niku nggih nembe lulus saking pondok mriki. Nggih nembe lulus. Yang mana nantinya mereka juga untuk belajar berbisnis, belajar manajemen, dan sebagainya,” tutur dia.

Penulis :  Muh Sanusi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *