Bantul,kolomnews.com – Salah satu penggiat kuliner lokal sekaligus pelaku bisnis UMKM pemilik brand jemana lokal, “Rujak Cingur Surabaya Ibu Thamrin” mengungkapkan bisnis kuliner Rujak Cingur khas Surabaya yang telah dilakoni sekira hampir dua dasa warsa atau 18 tahun hingga kini di sebuah warung sederhana tepatnya berada di sebelah Utara Kantor Pos Kasihan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Salah satu alasannya adalah penjual Rujak Cingur khas Surabaya di Jogja masih langka.

“Karena di Jogja [penjual Rujak Cingur khas Surabaya] masih langka,” ungkap Ibu Thamrin kepada Reporter Kuliner kolomnews.com saat menyambangi warungnya pada Sabtu lalu (18/5/2024).

Ditambahkan dia, keberadaan warung sederhana “Rujak Cingur Surabaya Ibu Thamrin” di area Bantul Utara tepatnya di Tirtonirmolo, Kasihan atau di Jalan Madukismo ini bakal kian memperkaya rujukan khazanah kuliner lokal khas Surabaya di Jogja. Sekaligus, jawaban atas respons keberadaan penjual Rujak Cingur khas Surabaya di Jogja yang masih hitungan jari.

“Sudah ada tempat [penjual Rujak Cingur] di Jalan Kaliurang, ada. Di Ngasem, ada. Kurang tau kalau di Bantul,” imbuh Ibu Thamrin.

Kemudian, dikisahkan pula awal mula jatuh hati atau terjadinya pertalian erat membangun kedekatan pada khazanah kuliner lokal Surabaya “Rujak Cingur.” Berawal menjadi seorang tenaga pendidik Sekolah Dasar Swasta di Banyuwangi. Lalu, sambil mengajar di Sekolah Dasar, kala itu teman akrabnya orang asli Surabaya mengajak membuka usaha mengeksekusi peluang berjualan Rujak Cingur Surabaya di Banyuwangi.

Lantas, teman akrabnya pun tak lagi membersamai Ibu Thamrin melakoni bisnis Rujak Cingur Surabaya. Akan tetapi sampai saat ini bisnis level UMKM yang dipegang sendiri tersebut, meski kini dirinya sekeluarga berdomisili di Perumahan Gunung Sempu RT 02, Tamantirto, Kasihan, Bantul, kondisinya pun masih terus menggelinding dan membesar.

“Saya dulu ngajar. Ada temen ngajak jual bareng gitu, dulu. Terus temennya asli Surabaya, trus sudah pindah. Sekarang tak teruskan,” ungkap Ibu Thamrin mengkisahkan pengalamannya.

Kendati bisnis kuliner lokal Rujak Cingur Surabaya yang telah dibangun Ibu Thamrin sejak 1986 di Banyuwangi itu ternyata harus diserahkan pengelolaannya kepada orang lain, bahkan ditinggal ke Jogja. Faktanya, usaha Rujak Cingur yang pernah dia bangun awal di Banyuwangi tersebut menjadi bukti menjejakkan kaki menguatnya posisi Ibu Thamrin pada bisnis kuliner lokal khas Surabaya.

Meski kala itu, Ibu Thamrin harus meninggalkan Banyuwangi lantaran Sang Suami tercinta Purna Tugas dari pekerjaannya di perusahaan plat merah produsen gula pasir kristal ‘Madukismo.’ Namun, kecintaannya pada bisnis kuliner “Rujak Cingur Surabaya” hingga mampu dikelola selama 18 tahun sampai saat ini dari sebuah warung sederhana di Jalan Madukismo itu tidak meleset jika Ibu Thamrin dengan Rujak Cingur Surabaya harus dilekatkan menjadi satu bagian yang tak terpisahkan berimbas nyata saat mengarungi kehidupan. Dan, membuktikan pula bahwa Ibu Thamrin merupakan pemain utama salah satu khazanah kuliner khas Surabaya, khususnya Rujak Cingur Surabaya di Jogja.

“Saya usaha ini, 18 tahun yang lalu semenjak Suami pensiun dari Pabrik Madukismo,” pungkasnya.

Penulis : Muh Sanusi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *